BAKTI SOSIAL DI BIDANG KESEHATAN MEMPERINGATI HARI JADI KOTA SURABAYA KE 716: DONOR DARAH DI PUSKESMAS DUPAK
Donor Darah Untuk Membayar Hutang Darah
16 Mei 2009
Surabaya, eHealth. Seorang pria berjalan dengan langkah mantap menuju tempat pendaftaran donor darah yang dilaksanakan di Puskesmas Dupak, pada hari Sabtu (16/5) lalu. Memang hari itu dilaksanakan donor darah pada acara bakti sosial di bidang kesehatan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke 716. Kumis tebal yang menghiasi wajah laki-laki paruh baya tersebut semakin menambah kesan angker, apalagi ditambah dengan suaranya yang menggelegar. Tetapi anggapan tersebut segera sirna ketika Gunawan, sapaan akrabnya berhadapan dengan jarum suntik. ”Seumur-umur saya sangat takut dengan jarum suntik,” jelas Gunawan dengan mimik cemas ketika petugas PMI akan mengambil darahnya.
Memang ini adalah pertama kalinya Gunawan mendonorkan darahnya, meskipun takut menghadapi jarum suntik, tetapi Gunawan mempunyai alasan tersendiri untuk mendonorkan darahnya. ”Sebenarnya saya takut, tapi saya memberanikan diri donor darah untuk membayar hutang mas,” ujar Gunawan kepada Tim eHelath.
Memang Gunawan pernah berjanji kepada dirinya sendiri akan melakukan donor darah apabila Rio, anaknya tertolong dari penyakitnya. ”Anak saya dulu sakit DBD (Demam Berdarah Dengue) dan membutuhkan darah, tetapi waktu itu pas Hari Raya Idul Fitri sehingga stok darah sepi dan mencari darahnya susah,” kenang pria berkacamata tersebut.
Lebih lanjut Gunawan mengungkapkan golongan darah putra satu-satunya tersebut adalah O dan agak susah untuk didapatkan apalagi pada saat itu bertepatan dengan hari raya, namun akhirnya Gunawan berhasil memperoleh darah tersebut dari PMI. ”Pada saat itu mencari darah golongan O dimana-mana susah tetapi akhirnya saya mendapatkannya di PMI,” terang Gunawan.
”Alhamdulillah Rio terselamatkan berkat darah tersebut, dan saya berjanji akan mendonorkan darah saya untuk membayar hutang darah itu,” jelas Gunawan dengan mantap. Meskipun darah yang diperoleh dipergunakan untuk putranya tetapi Gunawan merasa harus membayar hutang darah tersebut dengan darahnya sendiri. ”Sejak 7 tahun yang lalu saya berjanji untuk mendonorkan darah tetapi baru bisa saya lakukan pada saat ini,” terang Gunawan. Memang ketika Rio berhasil mendapatkan darah dari PMI sehingga berhasil diselamatkan dari DBD adalah pada tahun 2002. ”Semoga darah saya ini bermanfaat bagi orang lain,” jelas Gunawan.
Berbeda dengan Gunawan yang baru pertama kali mendonorkan darahnya, Drs. Muchamad Saleh telah mendonorkan darahnya puluhan kali. ”Yang tercatat di kartu donor darah ada sekitar 80-an tetapi yang tidak tercatat juga banyak, donor kali ini saja saya tidak membawa kartu donor darah,” jelas salah satu karyawan Dinas Kesehatan Kota Surabaya tersebut. Untuk diketahui Saleh mendonorkan darahnya sejak tahun 1979 pada waktu dirinya masih tinggal di Bima , Nusa tenggara Barat. ”Sejak SMA di Bima dulu saya telah mendonorkan darah,” kenang pria berbadan besar tersebut.
”Dulu saya kurus tetapi setelah donor darah berat badan menjadi naik”, sehingga saya rutin melakukan donor darah,” ujar Saleh. Selain itu melakukan donor darah dengan rutin setiap tiga bulan sekali dapat memberikan manfaat bagi pendonor diantaranya memacu tubuh untuk memproduksi sel-sel darah baru, sehingga fungsi darah menjadi lebih baik dan pendonor menjadi sehat. Hal ini disebabkan karena fungsi sel-sel darah merah adalah untuk oksigenisasi dan mengangkut sari-sari makanan dalam tubuh.
“Kakak perempuan saya pada saat melahirkan dulu pendarahannya sangat banyak, kebetulan golongan darah kita sama sehingga saya mendonorkan darah untuk kakak saya sendiri,” jelas Saleh. Lebih lanjut Saleh mengungkapkan dapat membantu orang lain yang membutuhkan merupakan kepuasan tersendiri, apalagi dapat membantu saudara sendiri.

“Saya memang rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali, dan akan berhenti donor darah 14 tahun lagi,” jelas Pria berusia 51 tahun tersebut. “Dilarang donor darah apabila usia telah mencapai 65 tahun, karena keadaan fisik sudah melemah,” ujar Nanang, petugas PMI yang bertugas mengambil darah dari pendonor.
Meskipun mempunyai jam terbang yang cukup tinggi dalam melaksanakan kegiatan donor darah, tetapi Nanang mempunyai beberapa kendala yang harus dihadapi ketika mengambil darah dari pendonor. “Ada acara donor darah tetapi donor dilakukan outdoor dan panas padahal darah membutuhkan suhu kamar kalau tidak darah akan mudah rusak,” jelas Nanang.
Selain itu beberapa tipe pendonor juga merupakan suatu hal yang harus dapat disiasati sehingga donor darah dapat berjalan dengan lancar. “Kalau yang donor cewek berusia 17 tahun atau orang yang jarang olah raga, maka mencari venanya susah karena tidak kelihatan,” jelas Nanang. Meskipun demikian Nanang menemukan cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu mencari pembuluh darahnya dengan lebih teliti lagi.
Bahkan tidak jarang terdapat pendonor yang pingsan ketika selesai melakukan donor darah. “Apabila ada yang pingsan maka pendonor harus tidur dengan posisi shock yaitu rebahan dan kaki diangkat dan posisinya diatas jantung,” terang Nanang dengan cekatan. Memang biasanya pingsan yang dialami oleh seseorang ketika selesai mendonorkan darahnya hanya sebentar. “Pingsan rata-rata Cuma 5 menit,” jelas pria berkulit putih tersebut. (ito)
Reporter : Bambang Yupito
Foto : Dalu Karunia Putra
