KHITAN MASSAL DALAM BAKTI SOSIAL HUT KOTA SURABAYA DI PUSKESMAS DUPAK
Kakak Beradik Dikhitan Dokter Kakak Beradik
19 Mei 2009
Surabaya, eHealth. Meskipun jam menunjukkan pukul 06.30 WIB dan langit masih merona merah dengan matahari yang baru bersinar beberapa saat, tetapi keadaan Puskesmas Dupak, hari Sabtu (16/5) lalu telah penuh sesak dengan ratusan orang yang akan melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis. Tidak hanya Lansia dan orang dewasa yang berbondong-bondong datang ke Puskesmas Dupak untuk menikmati pemeriksaan gratis ini, tetapi juga terdapat pemandangan tidak lazim yaitu beberapa anak laki-laki dengan mengenakan sarung yang datang ke Puskesmas.
Mereka tampak bersemangat menuju Puskesmas Dupak, setelah memasuki ruangan Puskesmas, anak-anak bersarung tersebut langsung naik tangga menuju ke lantai 2 dan benar saja di lantai tersebut terdapat lebih banyak anak laki-laki yang menggunakan sarung.
Anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut terlihat ceria dan sesekali saling bersenda gurau. ”Aku lho gak wedi (aku lho tidak takut, Red) disunat,” ujar Syamsul (9), sambil memandang anak di sebelahnya yang terlihat agak gelisah menunggu. Memang hari itu di Puskesmas Dupak dilaksanakan Bakti Sosial di bidang Kesehatan dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke–716 dan salah satu kegiatannya adalah diadakan khitanan massal bagi 50 anak yang kurang mampu di Surabaya.
”Syamsul Arifin,” panggil petugas yang menjaga pendaftaran khitan massal tersebut. Setelah menunggu akhirnya tiba giliran Syamsul untuk dikhitan, meskipun dia sempat memberikan semangat kepada anak lainnya tetapi jelas terlihat wajah cemas Syamsul ketika memasuki ruangan untuk khitan.
Di dalam ruangan yang berukuran 5x8 m tersebut terdapat 4 tempat tidur dan salah satunya merupakan tempat Syamsul berbaring. Di tempat tidur tersebut Syamsul diberikan bius dan akhirnya di khitan. ”Gak loro kok pak, cuma suntiknya sing loro (Tidak sakit kok pak, hanya suntiknya yang sakit, Red),” ujar Syamsul sambil meringis kepada bapaknya setelah khitan.
Syamsul yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar memang datang ke Puskesmas Dupak bersama keluarganya. Al Muki, sang ayah mengungkapkan bahwa dia mengikuti khitan massal ini karena memang tidak mempunyai biaya untuk mengkhitankan anak-anaknya. ”Mumpung ada acara khitan massal gratis ini, dua anak saya akan dikhitankan di sini,” jelas Al Muki.
”Saya tahu ada khitan massal ini dari tetangga,” terang Al Muki sambil membenarkan posisi peci Syamsul. Berbeda dengan Syamsul yang terlihat diam dan penurut, Muhammad Rofik (12) anak pertama Al Muki terlihat bersemangat menunggu giliran, apalagi setelah melihat adiknya telah dikhitan. ”Saya tidak takut disunat sudah kelas 6 kok, Syamsul saja berani,” ujar Rofik saat menunggu giliran dikhitan. Memang Rofik yang mengenakan baju berwarna merah dan sarung bermotif kotak-kotak hijau itu sangat antusias dengan khitan massal ini. ”Teman-teman di sekolah saya banyak yang sudah dikhitan,” terang Rofik.
Sama halnya dengan keluarga Al Muki mengkhitan dua anaknya, Keluarga Sri juga akan melakukan khitan kepada dua anaknya. ”Kalau disunat sendiri-sendiri repot jadi sekaligus dua anak langsung khitan bareng,” ujar Sri. Wanita berusia 33 tahun tersebut mengungkapkan bahwa sebelumnya dia mendapatkan informasi tentang khitan massal ini dari Puskesmas Kedungdoro.
”Kita tinggal di daerah Plemahan jadi untuk mengikuti khitan massal di sini kita memakai surat pengantar dari Puskesmas Kedungdoro,” Terang Sri. Selain surat pengantar dari Puskesmas, Sri juga membawa kartu Jamkesmas dan beberapa dokumen yang diperlukan.
Untuk diketahui masyarakat yang akan mengikuti khitan massal gratis ini harus membawa fotokopi KTP, membawa KSK dan dapat menunjukkan kartu Jamkesmas atau Surat Keteranga Miskin dan harus mendaftar dulu di Puskesmas tempat tinggalnya. Karena khitan massal ini hanya diperuntukkan bagi 50 anak laki-laki yang berasal dari keluarga kurang mampu di Surabaya. Setelah khitan anak-anak tersebut akan mendapatkan souvenir yang berisi sarung, baju koko dan peci.
Tempat tinggal Sri dan pelaksanaan khitan massal gratis ini berjauhan sehingga Sri dan keluarga melakukan persiapan terlebih dahulu. ”Kemarin saya dan suami ke Puskesmas Dupak untuk mengecek lokasi agar hari ini tidak nyasar,” terang Sri.
Memang ketika menunggu giliran putranya untuk dikhitan, Sri hanya ditemani oleh dua orang anaknya, sang suami tidak terlihat karena sedang menjemput anak sulungnya yang mengikuti ujian di sekolah. ”Yang di khitan Reza sama Ibnu anak pertama dan kedua saya kalau Hafid tidak dulu karena masih terlalu kecil baru berumur 5 tahun,” jelas ibu tiga anak tersebut.
Khitan massal gratis yang dilaksanakan sejak pagi dilakukan oleh 2 orang dokter dibantu dengan 4 perawat. ”Kalau anaknya tidak nangisan, ya khitannya cepat sehingga kita tidak capai,” jelas dr. Fitriah Wahyuningsih, dokter Puskesmas Dupak. Memang bukan perkara mudah mengkhitan puluhan anak dalam waktu sehari. ”Saya sendiri telah mengkhitan 5 anak, padahal yang mendaftar telah mencapai 40 anak,” jelas dr Fitriah.
Salah satu kendala terbesar yang dirasakan oleh petugas khitan massal adalah keterbatasan waktu. ”Kita harus cepat melakukan khitannya tetapi harus teliti dan cermat,” ujar dokter berjilbab tersebut. Dalam khitan massal ini, dr. Fitriah juga dibantu oleh dr. Rahmat dari Pusksmas Pegirian yang tidak lain adalah kakak dari dr. Fitriah. ”Saya mengkhitan anak-anak ini juga bersama kakak saya,” kelakar dr. Fitriah. Meskipun kakak beradik, tetapi dr. Rahmat dan dr. Fitriah melakukan khitan kepada anak-anak yang sebagian juga merupakan kakak beradik dengan profesional. (ito)
Reporter : Bambang Yupito
Foto : Dok. Tim eHealth
