KIPRAH EMPAT TENAGA KESEHATAN TELADAN KOTA SURABAYA
Kerja Dan Tugas Berbeda, Memiliki Semangat Yang Sama
19 Juni 2009
Surabaya, eHealth. Selama hampir empat bulan ini Dinas Kesehatan Kota Surabaya memiliki salah satu kesibukan yang berhubungan dengan kata ‘teladan’, yakni mencari dan menjaring ‘harta terpendam’ berlabel ‘teladan’ diantara ratusan tenaga kesehatan (Nakes) yang tersebar di 53 Puskesmas di seluruh Kota Surabaya. Bukan hanya sebagai apresiasi terhadap ketauladanan para Nakes teladan tersebut, namun lebih pada memberikan inspirasi terhadap sesama tenaga kesehatan dan juga terhadap dunia kesehatan.
Suasana Puskesmas Pakis pukul 7.20 WIB mulai ramai. Kami menemui Kepala Puskesmas Pakis, dr. Rachmad Tjanderahasan pagi hari itu dengan tujuan berbincang sedikit mengenai staf-nya yang berhasil mendapatkan penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan tahun 2009. Didampingi oleh dr. Rachmad, kami menelusuri Puskesmas menuju ruangan dimana salah satu Nakes yang mendapatkan penghargaan langsung dari Walikota Surabaya tersebut bekerja.
Terlihat beberapa orang tengah mengantri di depan loket, salah satu pasien tersenyum menyapa dr. Rachmad ketika kami melewati antrian tersebut. Terlihat beberapa pasien diantaranya duduk didepan berbagai macam poli yang tersedia, mulai dari ibu-ibu Lansia dengan penampilan khasnya mengenakan kebaya sederhana, hingga ibu-ibu yang tengah menggendong anak mereka yang masih berumur di bawah lima tahun.
Memasuki bagian dalam Puskesmas di sebelah kanan, terdapat salah satu ruangan yang belum tersentuh antrian. Dua orang wanita di dalamnya, satu mengenakan baju dinas, sedangkan satu orang lagi mengenakan baju atasan dan bawahan berwarna putih bak perawat tengah merapikan ruangan bernuansa hijau muda itu. Dengan penerangan yang cukup dari jendela, serta tepat di depan ruangan tersebut terdapat taman sederhana, menjadikan suasana ruangan yang bertulis Poli Gizi ini nyaman.
Dua orang wanita di dalam Poli Gizi itu masih merapikan beberapa buku di meja dan tata letak berbagai macam sayuran dan buah yang terbuat dari plastik sebagai alat peraga atau contoh kepada pasien. ”Selamat pagi, monggo-monggo mbak mas silahkan masuk,” sapa salah satu wanita yang mengenakan baju dinas itu mempersilahkan Tim eHealth masuk ke ruang kerjanya.
Setelah kami bertemu di beberapa kesempatan dengan wanita yang akrab disapa Lasmi tersebut, kami memutuskan untuk berkunjung ke tempat kerjanya di Puskesmas yang berdekatan dengan makam ini untuk pengambilan gambar. Sulasmi, SKM atau Lasmi merupakan salah satu Tenaga Kesehatan Teladan di bidang gizi.
Tepat empat bulan yang lalu, yakni bulan Maret 2009, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengadakan lomba Tenaga Kesehatan (Nakes) Teladan bagi seluruh Nakes di Kota Surabaya yang bertugas di Puskesmas. Lasmi merupakan salah satu ’harta karun’ terpendam yang akhirnya berhasil melalui beberapa tahap ujian yakni ujian tulis, makalah, presentasi, dan juga tinjauan langsung dari para juri yang saat itu terdiri dari perwakilan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Bapemas KB, dan juga PKK Kota Surabaya.
Saat itu sebanyak 212 Nakes di Kota Surabaya yang diajukan untuk mengikuti lomba Nakes teladan. Terdapat empat kategori yang dilombakan. Untuk kategori pertama tenaga medis yang merupakan dokter atau dokter gigi: kategori kedua yakni tenaga keperawatan yang terdiri dari perawat atau bidan; kategori ketiga tenaga kesehatan masyarakat yang terdiri dari asisten apoteker, analis laboratorium, sanitarian, epidemiolog kesehatan (surveilans), entomolog kesehatan, penyuluh kesehatan, dan asisten apoteker. Sedangkan untuk kategori terakhir adalah tenaga gizi yang merupakan nutrisionis atau dietietik.
Kategori pertama dipilih oleh camat dimana tenaga medis tersebut bertugas, sedangkan untuk kategori kedua hingga keempat dipilih langsung oleh Kepala Puskesmas tenaga kesehatan tersebut bertugas.
dr. Rachmad saat ditemui Tim eHealth pagi itu menuturkan sebenarnya Ia sebagai Kapus telah memilih empat orang delegasi untuk mengikuti Lomba Nakes Teladan tingkat Kota Surabaya, namun hanya dua orang yang lolos mendapatkan juara. ”Potensi, kinerja, dan juga kerajinan ketika bekerja yang menjadi pertimbangan,” jawab dr. Rachmad menanggapi pertanyaan alasan mendelegasikan Lasmi sebagai salah satu perwakilan dari Puskesmas Pakis. ”Bukan berdasarkan lamanya dia bekerja,” lanjutnya.
Menjadi seorang ’teladan’ bukanlah hal yang mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk diemban. Koordinator lomba Tenaga Kesehatan Teladan tahun 2009 dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya, drg. Primayanti, menjelaskan di kesempatan lain bahwa teladan bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dalam semalam. ”Keteladanan tidak dapat diciptakan secara singkat,” jelas drg. Prima yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Perencanaan dan Pendayagunaan Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa teladan merupakan sebuah sikap keseharian yang menjadi kebiasaan dan menunjang pekerjaan menjadi lebih baik. Seperti yang dicontohkan oleh drg. Prima, mengacu pada Nakes Teladan asal Surabaya yang pernah mewakili wilayah Jawa Timur ke tingkat nasional untuk kategori Nutrisionis tahun 2007 yakni Ibu Wahyu dari Puskesmas Mojo bahwa terdapat salah satu kebiasaan atau perilaku positif yang dilakukan Wahyu yang membuatnya lolos, yakni membuat daftar menu sehari-hari berdasarkan hitungan gizinya. “Saat juri berkunjung ke rumahnya, anak dari ibu Wahyu sendiri yang menunjukkan menu gizi kepada juri,” jelas dokter gigi yang baru menjadi koordinator Lomba Nakes Teladan selama satu tahun ini.
Tidak hanya menjadi kebiasaan di rumah, drg. Prima menerangkan bahwa kebiasaan menyusun menu gizinya itu kemudian diterapkan di pekerjaannya sebagai nutrisionis. Hal tersebut nyatanya menunjang pekerjaan Wahyu sebagai ahli gizi menjadi lebih baik. ”Karena sudah menjadi kebiasaan, jadi saat ingin menerapkan di tempat kerjanya tidak sulit,” lanjut dokter gigi yang mengenakan jilbab ini.
Sama halnya dengan Wahyu. Lasmi, wanita kelahiran Klaten 30 September 1965 itu memiliki kebiasaan yang sama dengan Wahyu, yakni mencatat menu makanan, selain itu Ia juga rajin mendokumentasikan setiap kegiatannya. Saat Tim eHealth mewawancarai alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ini, Ia tidak segan menyodorkan lima buah album foto. Di dalamnya terdapat berbagai macam foto dokumentasi, mulai saat Ia sedang mensosialisasikan asupan gizi, foto-foto Balita yang kurang gizi hingga Balita tersebut sehat, kemudian dokumentasi foto lomba Balita sehat yang pernah diadakan olehnya, hingga dokumentasi foto saat Ia dan para Kader Posnyandu bertamasya.
Tepat di bawah masing-masing foto tersebut, terdapat tulisan tangan sederhana yang menjelaskan kegiatan di dalam foto. Keterangan foto itu ditulis sendiri oleh Lasmi.
Bukan hanya menu dan juga dokumentasi foto yang menjadi nilai lebih dari Lasmi. Salah satu perihal penting buah dari keteladannya adalah penurunan angka gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Pakis. Seperti yang terlihat di makalahnya saat Ia presentasi di depan para juri tingkat Kota, yakni pada tahun 2006 angka gizi buruk masih terhitung tinggi, namun Lasmi bersama para Kader berupaya untuk menurunkan angka gizi buruk, hingga akhirnya tahun 2007 angka gizi buruk turun dibawah 1% yakni 0,8%. Berangsur menurun menjadi 0,24% pada tahun 2008 kemarin.
Upaya yang dirasakannya sangat efektif adalah dengan merangkul pihak ketiga untuk bekerjasama melaksanakan berbagai macam kegiatan menyangkut gizi. ”Saya mengajak beberapa perusahaan yang terkait dengan produk gizi selain itu bermitra juga dengan Rumah Sakit atau Bidan Praktek Swasta,” jelas ahli gizi yang lebih memilih bekerja di Puskesmas ketimbang di Kantor Dinas Kesehatan Kota Surabaya pada tahun 1994 dengan alasan supaya dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Kemitraan yang dijalinnya tersebut nyatanya membuahkan kepercayaan dari pihak ketiga, sehingga Lasmi dapat mewujudkan berbagai macam kegiatan seperti lomba Balita sehat atau sekedar bantuan PMT di 54 Posyandu Balita binaan Puskesmas Pakis. ”Kalau cuman penyuluhan saja kan bosan, jadi saya sering adakan event,” tutur Lasmi yang juga pernah mengemban ilmu di Akademi Gizi Poltekes Malang tahun 2002 ini.
Ditambah lagi dengan berbagai macam pelatihan manajerial yang selalu diikutinya atas utusan pimpinan atau Kepala Puskesmas, mulai saat Ia bekerja di Jogjakarta pada tahun 1988 dimana Ia dipercaya pimpinannya untuk menjalani berbagai macam pelatihan, hingga ketika Ia turun ke Puskesmas di Surabaya pada tahun 1994, yakni tepatnya di Puskesmas Putat Jaya. Ketekunannya dalam mengatur dan menyusun sesuatu itu sempat menarik peratian direktorat bina gizi Departemen Kesehatan RI untuk mengunjungi pojok gizi binannya di Puskesmas Putat Jaya. Kemudian pada tahun 2004 Ia meneruskan ketekunannya tersebut di Puskesmas Pakis hingga akhirnya mendapatkan penghargaan teladan tersebut.
Selain Lasmi yang mendapatkan penghargaan Nakes teladan tingkat kota, teman satu tempatnya bekerja, Dini Ismawati, Amd Kesling, petugas sanitasi Puskesmas Pakis pun mendapatkan penghargaan yang sama. ”Saya dan mbak Dini ini terkadang juga bekerja sama, karena gizi dan lingkungan juga kan sangat berhubungan erat di kesehatan,” jelas Lasmi.
Dini yang terhitung lebih muda ini tidak berbeda dengan Lasmi. Walau pengalaman bekerjanya masih minim, namun Ia tidak kalah semangat menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai petugas sanitasi. Seperti ketika Tim eHealth mampir ke ruangannya yang tidak jauh dengan ruangan Lasmi. Ia tengah sibuk mempersiapkan barang-barang bawaannya untuk mengambil sample air di 12 titik. “Kalau kunjungan seperti ini ya biasanya sendirian,” jelas ibu seorang Balita dan sepasang bayi perempuan kembar ini.
Dengan mengendarai sepeda motor dan membawa tas khusus petugas sanitasi, Ia menyusuri jalanan di Kelurahan Pakis untuk mengambil sample air. Saat itu Ia bertugas untuk mengambil sample air PDAM di beberapa rumah penduduk dan juga di beberapa depot air minum. Kebetulan Tim eHealth ikut mengunjungi salah satu titik yang didatangi oleh Dini, yakni sebuah depot air minum. Setelah Dini menyapa penjaga depot air minum, seperti sudah terbiasa dengan kunjungan tersebut, penjaga depot air minum tersebut membuka salah satu bilik air minum, Dini mengeluarkan botol ukuran kecil dan besar sebagai tempat air. Masing-masing botol terdapat label keterangan air milik siapa. Kunjungan ini Ia lakukan rutin sebulan sekali, dengan tujuan untuk mengukur kadar klorin di dalam air.
Dua Nakes lainnya yang mendapatkan penghargaan sebagai Nakes teladan adalah dr. Maya Sharia Saleh, Kepala Puskesmas Balongsari dan seorang Bidan di Puskesmas Banyu Urip, Rini Agustini, Amd Keb. Jika dua orang sebelumnya Tim eHealth lihat dan dengar langsung keseharian bekerjanya, untuk dr. Maya Syahria Saleh Tim eHealth mencoba untuk mendengar kesehariannya dari beberapa staf yang bekerja dengannya di Puskesmas Balongsari. “Kerja keras, disiplin, tidak suka istirahat,” jelas salah seorang pegawai Puskesmas Balongsari disusul dengan tawanya.
Ia menjelaskan bahwa dr. Maya sebagai pimpinan merupakan seorang yang tidak sungkan-sungkan untuk mengingatkan para stafnya ketika terdapat kesalahan, “saya sendiri lebih suka kalau diingatkan langsung kalau ada salah, karena bisa langsung diperbaiki,” jelas pegawai yang biasa mengurusi permasalahan komputer tersebut. Terkadang untuk membenahi kesalahan atau dalam melaksanakan tugas, dr. Maya sendiri sering lupa untuk istirahat, hingga saat sakit pun ketika masih bisa membina dan melaksanakan tugas di Puskesmas ibu tiga orang tersebut tetap masuk bekerja.
Seperti yang juga dituturkan oleh Mira Mardiana, SKM, petugas Tata Usaha mengenai dr. Maya. ”ibu (dr. Maya, Red) itu jarang sekali absen kalau tidak kepepet banget. Semangatnya mengalahkan sakit,” jelasnya. Kalaupun akhirnya Ia harus absen, Mira menjelaskan bahwa dr. Maya selalu kontak Puskesmas Balongsari melalui telepon untuk mengetahui perkembangannya. Ia menjelaskan bahwa dr. Maya adalah tipe pemimpin yang keras dan peka kepada setiap pegawainya. Sehingga apapun hal yang terjadi di pegawainya Ia selalu tahu, dan kerap kali muncul sebagai penengah apabila terdapat permasalahan diantara pegawai. ”Kerasnya itu baik, kita butuh ibu seperti bu Maya,” tuturnya sambil tersenyum.
Bukan hanya dapat membaur dengan para pegawai, dr. Maya pun sangat dekat dengan masyarakat, seperti yang diungkapkan Mira bahwa dalam membangun Puskesmas Balongsari untuk dapat lebih maju, Ia tidak sungkan untuk terjun langsung ke masyarakat membawa brosur yang berisi fasilitas di dalam Puskesmas sebagai salah satu upaya promosi, selain itu Ia tidak segan mendatangi pihak ketiga untuk diajak bekerjasama.
Sama halnya dengan Rini Agustini yang bertugas sebagai Bidan di Puskesmas Banyu urip yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi, sama halnya dengan ketiga Nakes teladan yang lain, nilai tambah yang Ia memiliki adalah ketekunannnya dalam membangun kelas khusus bagi ibu hamil. Melalui kelas khususnya itu, informasi menyangkut kehamilan didapatkan, bukan hanya bagi sang ibu tetapi juga kepada sang suami. “Menjadi Bidan sebenarnya bukan impian saya, tetapi ketika sadar menjadi Bidan itu menyelamatkan dua nyawa sekaligus saya kemudian menjadi tertarik dan ingin mendalami,” jelas Rini.
Selain mendapatkan penghargaan Nakes teladan, keempat Nakes tersebut juga masuk dalam nominasi teladan untuk tingkat Jawa Timur. Karena keempatnya berhasil masuk sebagai nominasi tersebut, berdasarkan tim Juri Jatim, Surabaya memiliki nakes terbanyak yang masuk dalam nominasi dibandingkan dengan kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur. Maka pada bulan Juni ini, keempatnya akan diuji lebih lanjut melawan berbagai Nakes teladan tingkat Jawa Timur untuk kemudian dipilih mewakili Jawa Timur di tingkat Nasional di bulan Agustus nanti bertemu dengan Menteri Kesehatan RI dan Presiden RI.
Keempat Nakes tersebut, memiliki keseharian bekerja yang berbeda, tugas yang berbeda, di wilayah kerja yang relatif berbeda. Tetapi mereka memiliki kesamaan, yakni memiliki semangat, ketekunan, keuletan, dan kegigihan dalam bekerja. Perilaku sehari-harinya mendukung kinerjanya lebih baik dan dapat membangun perilaku baik kepada masyarakat di sekitarnya.
Melalui kegigihan mereka, tidak sedikit kepercayaan mengalir sebagai bentuk dukungan, mulai dari teman rekanan bekerja, pimpinan, pegawai atau pun masyarakat yang bekerja sama dan masyarakat yang mendapatkan perhatian mereka ketika bekerja.
Tidak satu pun dari mereka memiliki kesiapan khusus ketika ditanya apa saja yang disiapkan untuk mencapai teladan tersebut. Hal tersebut karena telah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka. Sehingga keteladanan terpupuk dengan sendirinya dalam perilaku mereka. Menjadi contoh dan inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya dan bagi Tenaga Kesehatan lainnya.(Fie)
Reporter : Dian Sofianty P
Foto : Dalu Karunia P
| Attachment | Size |
|---|---|
| nakes-teladan-dini.jpg | 20.4 KB |
