KISAH RIMA MELATI DAN LEA MEMERANGI KANKER DALAM HIDUPNYA
Jangan Ada Kata Putus Asa Jika Ingin Terus Tersenyum Bahagia
November 2009
Surabaya, eHealth. Saat Dinas Kesehatan Kota Surabaya bekerjasama dengan RSU Dr. Soetomo dan Yayasan Paliatif Indonesia mengadakan Seminar Awam Paliatif, pada kesempatan itu pula dihadirkan dua orang tokoh cancer survivor atau penderita Kanker yang akhirnya sembuh dari ancaman penyakit mematikan itu, hal tersebut dengan tujuan memberikan inspirasi dan semangat. Mereka adalah Rima Melati, artis tahun 60-an, dan Mami Lea Adholfina Umkeketony, atau yang akrab disapa dengan Lea, salah seorang pasien dari RSU Dr. Soetomo Surabaya. Berikut kisah perjuangan mereka.
Berbalut baju semi kebaya berwarna merah muda halus, dan rok panjang bermotif batik dengan warna merah muda tua, Rima Melati hadir di tengah masyarakat Kota Surabaya dengan begitu menawan. Senyumnya terus terpancar dari wajahnya yang masih terlihat segar di umurnya yang telah genap 70 tahun pada 22 Agustus lalu.
Sama halnya dengan Lea yang saat itu hadir dengan mengenakan baju batik abu-abu dipadankan dengan celana yang senada dengan batiknya tersebut. Dengan potongan rambut pendek, wanita asal Maluku Tenggara ini pun tampil tidak kalah segar dan bugar seperti halnya Rima Melati saat itu.
Seraya didendangkan sebuah lagu memori, Rima Melati bersama Lea berjalan menuju panggung untuk memberikan sekelumit kisahnya dalam memerangi bayang-bayang Kanker dari dalam pikirannya dan tentu saja dari dalam tubuhnya.
Artis yang memiliki nama asli Marjolien Tambajong ini mengawali ceritanya ketika 20 tahun silam Ia divonis memiliki Kanker Payudara dalam tubuhnya. Padahal 9 tahun sebelumnya wanita asli Tondano, Sulawesi Utara ini pun divonis terkena Kanker Usus Besar. “Seperti sebuah musibah yang didapat,” tutur istri dari Frans Tumbuan ini.
Namun terdapat perbedaan yang berarti ketika Ia divonis mendapat Kanker Usus Besar dan Kanker Payudara. “Kalau Kanker Usus Besar lebih cepat tahu karena ada nyeri,” jelasnya kepada audience. Bebeda halnya ketika Ia mengetahui terdapat sebuah benjolan di payudara sebelah kirinya. Tidak ada nyeri sama sekali, hanya sebuah benjolan yang tidak normal yang teraba oleh artis yang pernah mendapat Piala Citra ini ketika mandi.
Saat pertama kali merasakan benjolan tersebut, Ia tidak menindak lanjuti karena menganggap benjolan tersebut sebagai hal yang biasa. Namun, benjolan tersebut makin lama makin membesar. Saat itu, Ia mengakui bahwa informasi mengenai Kanker tidak segencar saat ini. Sehingga, selalu saja ada alasan untuk menenangkan dirinya saat itu. Kemudian Ia bertemu seorang dokter wanita ketika Ia berziarah ke salah satu kerabatnya.
“Saya tanya ke dokter yang kebetulan teman saya juga itu, kemudian Ia raba benjolan tersebut. Wah langsung marah dokter itu pada saya karena katanya benjolannya sudah besar sekali, nah, karena saya belum mengerti apa-apa, saya balik marah juga ke dia,” jelasnya panjang lebar. Saat itu pula Rima dihimbau untuk datang ke klinik dokter tersebut sore harinya. “Tapi saya saat itu tidak datang, sampai dia (dokter, Red) menelepon saya,” lanjutnya.
Kemudian beberapa hari setelahnya, Ia pun mengatakan keberadaan benjolan tersebut kepada suami, serentak sang suami kaget dan sama halnya seperti rekan dokternya tersebut, Ia pun marah. Akhirnya Rima bersama suami memeriksakan keadaan benjolan tersebut. Dokter yang memeriksakan keadaannya saat itu hanya terdiam, dan tidak berani menatap mata Rima, kemudian sang dokter menjelaskan hasilnya pada sang suami.
Frans memegang tangan istri tercintanya sesaat setelah dijelaskan itu. Namun Rima masih saja bingung. Akhirnya dia pun mengetahui bahwa Ia divonis Kanker Payudara dengan stadium lanjut, seketika itu juga Ia terbayang kematian.
“I dont’ want to die,” teriaknya saat itu di dalam hati, seperti yang diperagakan olehnya di depan audience. Semangatnya untuk tetap bertahan hidup kemudian membuatnya terus mencari usaha terbaik untuk terus dapat menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dicintainya.
Sama halnya dengan yang dialami Lea, cancer survivor lainnya yang memberikan testimoni kepada para undangan seminar menyambut Surabaya Bebas Nyeri Kanker (SBNK) 2010 saat itu. Ketika Ia dinyatakan mengidap Kanker Kelenjar Getah Bening pada tahun 2007, Ia sangat shock. “Saya masih ingin hidup, saya ingin menikah, berkeluarga dan terus berkarir,” tutur wanita kelahiran 13 Mei 1979 ini.
Maka Ia pun berusaha keras melakukan pengobatan sehingga dapat mengikis habis sel-sel mematikan yang ada di sekitar leher bagian kirinya tersebut. Mulai dari kemoterapi sampai radiologi Ia jalani. “Saya 12 kali kemo dan 20 kali radiologi,” terang wanita yang pertama kali merasakan benjolan ketika umurnya 28 tahun. Tidak lupa Ia pun mendapatkan perawatan paliatif dengan tujuan mendapatkan dukungan secara mental dan psikis.
Keduanya, baik Rima Melati dan Lea, mengaku dukungan keluarga atau kerabat dekat merupakan dorongan terbesar untuk tetap bertahan hidup dan tetap melakukan pengobatan hingga akhirnya sembuh total dan dapat beraktifitas kembali bersama orang-orang yang dicintai tanpa harus dibayang-bayangi kemungkinan buruk akibat penyebaran sel-sel mematikan tersebut di dalam tubuhnya.
Rima Melati memberikan tips sederhana kepada para undangan saat itu, apabila istri, suami, anak, atau saudara bahkan kerabatnya menemukan sebuah benjolan tidak layak dalam tubuhnya. “Ibu-ibu tolong jangan pergi kemana-mana ketika mengetahui ada keanehan, langsung ke dokter saja,” tekannya bersungguh-sungguh.
Beberapa tips darinya adalah obati sedini mungkin kemungkinan Kanker yang ada dalam tubuh, langsung periksakan ke dokter terpercaya, dan yang terpenting baginya adalah cari dukungan sebanyak-banyaknya untuk tetap bertahan berobat dan bertahan semangat.
Seperti yang diungkapkan sebelumnya, sebuah dukungan atau support dari siapa pun akan berarti sangat besar bagi orang-orang yang telah dinyatakan menderita Kanker, karena ketika seseorang mendengar Kanker umumnya yang terbayang setelahnya adalah ‘kematian’. Rima menceritakan bahwa ketika akhirnya Ia memutuskan untuk menghabisi sel-sel Kanker di payudaranya di Belanda, Ia merasakan bahwa walaupun tak ada seorang pun yang mengetahui ia adalah seorang artis, tetapi perawat dan dokter disana tetap memberikan banyak dukungan. Lea pun menuturkan hal yang sama, anak bungsu dari dua bersaudara ini juga menuturkan betapa dukungan orang lain, terutama keluarga, sangat besar efeknya terhadap keberlangsungan usaha dan upaya.
Saat dihubungi Tim eHealth, Lea menuturkan bahwa sekarang Ia sudah tidak menjalani pengobatan kendati evaluasi bulanan atau sekedar check-up pasca kemoterapi dan radiologi untuk memastikan apakah sudah terbebas dari bahaya kanker.
Kendati latar belakang dari dua cancer survivor ini berbeda, namun keduanya memiliki satu kesamaan, yakni pantang putus asa dan terus menciptakan harapan dengan upaya tepat untuk dapat tetap berbahagia dengan orang-orang yang dicintainya. Rima Melati masih terus eksis di dunia selebritisnya, dan tentu masih dapat menikmati keseharian bersama keluarga besarnya, sedangkan Lea ditengah kesibukannya sebagai karyawati salah satu Klinik Medis di Surabaya, Ia juga meneruskan jenjang pendidikan di Magister Psikologi Universitas 17 Agustus Surabaya.(Fie)
Reporter : Dian Sofianty P
Foto : Imroatul Afifah
