SABRINA, BALITA DARI KELUARGA TUNA NETRA YANG MEMENANGKAN LOMBA POSYANDU

Teaser: 

Tidak Ada Yang Mustahil di Posyandu

Februari 2010

Surabaya, eHealth. Adakah kendala dalam menjaga Balita anda agar tetap sehat? Pertanyaan itu mungkin akan dijawab bersahutan oleh banyak orang tua. Karena tidak dapat dipungkiri memang banyak kendala dalam memelihara kesehatan Balita yang dihadapi para orang tua.

Namun tidak demikian rupanya dengan pasangan Suwardi (42) dan Musriah (41). Dengan segala keterbatasan mereka sebagai penyandang tuna netra, kedua orang tua dari Balita bernama Sabrina (5) ini telah berhasil mengantarkan anak kedua mereka menjadi juara III dalam Lomba Balita Sehat yang diadakan oleh Puskesmas Pakis beberapa waktu lalu. Sebuah prestasi yang sungguh tidak mudah untuk orang tua pada umumnya.  

Untuk menjadikan juara dalam sebuah lomba Balita sehat, bersaing dengan 150 lebih Balita lain yang tentunya terdapat kriteria yang perlu diperhatikan. Tetapi menurut Suwardi, hal itu tidaklah susah, selama ini Suwardi maupun Musriah mengasuh Sabrina dengan biasa saja, tidak ada perlakuan yang istimewa. ”Kita ga nyangka (menang), lha wong setiap hari juga makannya biasa saja, bahkan jarang minum susu sejak berhenti minum ASI,” ujar Musriah. Dengan pekerjaan Musriah sebagai juru pijat dan sang suami sebagai pengamen, memang susu menjadi sesuatu yang lumayan mahal untuk dibeli.

Batas yang hampir mustahil memang untuk menjadikan anak kedua mereka sebagai pemenang lomba Balita. Jangankan juara lomba, sekedar menjadi peserta lomba saja menurut mereka sudah seperti mimpi. ”Kita ga nyangka ternyata Sabrina bisa ikut Lomba Balita Sehat, seperti mimpi rasanya,” tutur Musriah.

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, sepasang suami istri ini pun tidak patah semangat untuk menjadikan anaknya sebagai Balita sehat. Semenjak kehamilan Sabrina, Musriah telah rutin pergi ke Posyandu dan ke Puskesmas. Menurut Sustriah, salah satu kader Posyandu Dahlia Kecamatan Pakis, keadaan orang tua Sabrina yang serba terbatas, justru membuat mereka sangat gigih berjuang. ”Sejak awal kehamilan (Sabrina), mereka sangat mandiri mas, gak pernah minta tolong atau apa. Bahkan mereka jauh lebih antusias datang ke Posyandu dibanding orang-orang yang normal,” tandas Sustriah.

Sabrina tinggal bersama kedua orang tuanya di lingkungan RT 3 RW 8 Kecamatan Pakis yang merupakan wilayah kerja Posyandu Dahlia. Para kader mengaku tidak menghadapi kesulitan untuk mengajak orang tua Sabrina untuk datang ke Posyandu.

”Biasanya sehari sebelum hari-H Posyandu, kami datang rumahnya (orang tua Sabrina, Red) buat ngasih tahu, dan dia pasti datang esok hari dengan ibu atau bapaknya,” lanjut Sustriah yang telah menangani Sabrina sejak tiga tahun lalu. ”Tidak seperti Balita yang lain, meskipun sudah didatangi (oleh kader, Red) masih saja datangnya arangkadang (jarang, Red),” tukas Sustriah memuji kedua orang tua Sabrina ini.

Karena ketelatenan inilah, para kader pun dapat berperan maksimal dalam perkembangan kesehatan Sabrina sejak lahir. Itulah titik putih yang membuat orang tua Sabrina tidak menghadapi banyak kesulitan meski dalam segala keterbatasan, karena tidak jarang memang mereka menghadapi beberapa kendala.

”Kadang kalau (Sabrina) sakit saya bingung, apalagi kalau waktunya minum obat, susah membedakan mana (obat) yang diminum satu atau dua kali sehari. Kadang saya sangat takut kalau sampai salah, jadi yang bantu itu ya ibu kader ini atau tetangga,” tutur Musriah seraya tersenyum.

Selain itu, lanjut wanita yang mengalami tuna netra sejak lahir ini, hampir tidak ada keluhan dalam mengasuh buah hati mereka. Nyatanya, malah Sabrina tumbuh menjadi Balita yang sehat.

Saat tim eHealth menemui Sabrina, bocah kecil itu tampak bersemangat dan ceria. Seperti anak-anak seusianya, Sabrina bermain dan berlari-lari kecil sampai orangtuanya mengisyaratkan untuk tenang dan duduk disampingnya. ”Aku sudah bisa maem (makan, Red) sendiri, gosok gigi sendiri, dan kadang aku berangkat ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini, Red) sendiri kalau bapak lagi kerja,” kata Sabrina saat tim eHealth menanyakan kegiatan Sabrina sehari-hari.

Gadis kecil yang bercita-cita menjadi dokter ini memang diajarkan mandiri sejak dini oleh kedua orang tuanya. ”Mudah-mudahan Sabrina bisa sekolah sampai tinggi, apalagi sampai kuliah,” harap Musriah sembari merangkul Sabrina yang berada disampingnya.

Pelayanan Maksimal Posyandu

Dengan pelayanan maksimal dari para kader sejak ibu dalam keadaan hamil hingga melahirkan dan merawat Balita, tentunya kecil kemungkinan apabila terjadi gangguan pada Balita tersebut. Karena kondisi berat badan Balita, makanan dan asupan gizi akan terus terpantau oleh kader. Seperti Sabrina  yang tak pernah lepas dari pengawasan kader sejak dalam kandungan, dan selalu rutin datang ke Posyandu hingga saat ini, menjadikan sabrina hampir tidak pernah mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Sayangnya hal ini tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang tua.

Kebanyakan orang tua datang ke Posyandu saat Balita mereka mengalami penurunan berat badan atau mengalami gangguan perkembangan, misalnya gizi buruk. Tidak jarang orang tua yang terhitung mampu, Balitanya mengalami kekurangan gizi. Hal ini bisa dikarenakan kurang disiplinnya orang tua membawa buah hatinya ke Posyandu. Balita yang seharusnya selalu ditimbang teratur, mendapat asupan gizi, dan terpantau kesehatannya di Posyandu malah terjerumus pada terganggunya perkembangan pertumbuhan pada akhirnya, hanya karena kemalasan orang tua untuk datang ke Posyandu.

Padahal, kader sebagai perpanjangan tangan dari Puskesmas sudah berusaha dengan segala upaya dalam meningkatakan keikutsertaan Balita di Posyandu. ”Selama ini kami sudah berusaha, kami datangi sehari sebelum kegiatan Posyandu diadakan,” ujar Sustriah, kader Posyandu Dahlia.

Sudah seharusnya para orang tua mulai menyadari pentingnya datang ke Posyandu dan memaksimalkan fungsi Posyandu demi perkembangan terbaik Balitanya. Karena mustahil Balita di sebuah kawasan dapat berkembang maksimal apabila tidak ada kerjasama yang baik antara orang tua Balita dan kader. Sebaik apapun kader meningkatkan kemampuan mereka, tidak akan bermanfaat apapun apabila Balita dan orang tua tidak datang di Posyandu.

Menurut Kepala Puskesmas Pakis, dr. Rahmat Tjanderahasan, pihaknya tidak pernah lelah untuk meningkatkan fungsi dan peran Posyandu. ”Setiap staf disini (Puskesmas, Red) pasti dapat giliran turun ke Posyandu, termasuk saya,” ujarnya. Hal ini selain untuk mengetahui berbagai permasalahan di wilayahnya, juga untuk meningkatkan  kemampuan kader.

Selain itu, pertemuan kader setiap bulan juga tidak pernah absen dilakukan. Karena fungsi kader sebagai nahkoda yang menentukan baik tidaknya kegiatan Posyandu, maka kemampuan kader memang harus ditingkatkan secara maksimal. Meskipun demikian besarnya tugas yang harus diemban, hambatan para kader tetap menghadang. ”Yang jelas yang pertama mereka harus telaten, harus sabar, dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan warga,” tungkasnya.(Dlu)

IMG_5571.jpg
Your rating: None Average: 5 (1 vote)