TENAGA KESEHATAN DI PENGUNGSIAN KORBAN KEBAKARAN WONOKUSUMO
Layanan Sepenuh Hati Selama 24 Jam Kepada Korban Bencana
8 Juni 2009
Surabaya, eHealth. Rabu (3/6) pukul 01.00 WIB dini hari Jl. Wonokusumo Kidul No. 29 dilalap si jago merah. Sebanyak 43 rumah warga ludes terbakar, memang tidak ada korban jiwa, tetapi harta benda dan barang berharga milik 193 warga dari 50 Kepala Keluarga habis terbakar. Setelah api berhasil dipadamkan pada pukul 04.30 WIB Tim Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana) Kota Surabaya langsung memberikan bantuan, salah satunya adalah bantuan medis yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya melalui Tim Gerak Cepat (TGC) yang telah dibentuk baik di Dinkes Kota Surabaya maupun di tingkat Puskesmas.
Memang TGC yang telah dibentuk harus selalu siap siaga selama 24 jam dalam memberikan bantuan medis pada saat diperlukan maupun ketika terjadi bencana. Seperti yang dilakukan TGC dari Puskesmas Pegirian. Setelah berkoordinasi dan mendapatkan perintah dari koordinator TGC Dinkes Kota Surabaya, kemudian anggota TGC Puskesmas Pegirian langsung memberikan bantuan medis karena lokasi kebakaran termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Pegirian.
”Setelah ke tempat kejadian, Alhamdulillah ternyata tidak terdapat korban jiwa, tetapi kita tetap siaga terus selama 24 jam,” jelas Hasan, salah satu anggota TGC Puskesmas Pegirian saat ditemui tim eHealth, hari Kamis (4/6) lalu.
Tempat pengungsian yang terletak di area pemakaman umum Wonokusumo Kidul ini telah didirikan dua buah tenda peleton, yang masing-masing tenda idealnya dapat menampung 40 orang. Memang rencananya akan didirikan 4 tenda tetapi sebagian warga memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudara sehingga hanya diperlukan dua tenda saja.
Meskipun telah didirikan tempat pengungsian tetapi korban kebakaran tetap memerlukan tenaga kesehatan. ”Hari ini ada 20 pasien yang memerlukan pengobatan, sebagian besar mereka hanya kelelahan, pusing dan batuk ringan saja,” jelas Hasan, salah satu perawat Puskesmas Pegirian itu.
Memang dalam papan pengumuman di tempat pengungsian terpasang nomor HP Hasan sebagai tenaga kesehatan. ”Kita selalu siap 24 jam sehingga apabila di tempat pengungsian perlu tenaga kesehatan tinggal telepon saja,” jelas Hasan bersemangat.
Pria berkulit hitam tersebut terlihat cekatan ketika memeriksa salah satu pasien dengan mengenakan stetoskop di tempat pengungsian. Memang selain harus siap sedia selama 24 jam, tenaga kesehatan yang tergabung dalam TGC harus dapat memberikan pertolongan medis dengan baik. ”Kita tetap harus memberikan pelayanan sepenuh hati kepada masyarakat meskipun mereka adalah korban bencana,” lanjutnya. Salah satunya adalah ketika membersihkan luka pasien, harus dilakukan dengan hati-hati dan benar. ”Apabila perlu tindakan medis lanjutan maka akan kita rujuk,” jelas Hasan.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada korban bencana, TGC tidak setengah-setengah.”Ada salah satu pasien yang terluka karena kena paku dan suspect Tetanus, sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Soewandhi dengan menggunakan mobil Ambulans Puskesmas Pegirian,” jelas Hasan. Perlu diketahui dalam satu TGC biasanya terdiri dari seorang dokter, seorang perawat dan seorang sopir serta mobil ambulans.
Memang Hasan belum menghadapi kendala yang berarti dalam melaksanakan tugasnya sebagai anggota TGC. ”Saya senang sekali menjadi bagian TGC karena dapat mengabdikan diri kepada masyarakat dan mengaplikasikan ilmu sebagai perawat, doa-kan saja semua anggota TGC sehat selalu sehingg dapat senantiasa memberikan pertolongan ketika ada kejadian,” terang Hasan.
”Tenaga Kesehatan tetap siaga meskipun tidak ada korban. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi trauma atau gangguan psikis setelah kebakaran,” jelas Agus Rudianto, Amd. Kep, Koordinator TGC Dinkes Kota Surabaya. Memang meskipun sebagai koordinator TGC, tetapi Agus juga turun ke Lapangan.
”Dadi podo kerosone, podo-podo nang Lapangane (jadi sama-sama terasanya, dan sama-sama dilapangannya, Red),” ujarnya. Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa memberikan pertolongan dalam TGC ini membutuhkan hati yang ikhlas.
”Kalau tidak dari hati tidak akan ada yang mau untuk memberikan pertolongan, padahal harus selalu siap 24 jam selama 7 hari,” jelas Agus.
”Sampai saat ini Puskesmas Pegirian 24 jam siaga on call,” jelas Agus yang selalu membawa HT (Handy Talky) di tangannya. Memang HT yang dipegangnya merupakan alat komunikasi yang diperlukan untuk memberikan koordinasi kepada anggota TGC yang tersebar di 53 Puskesmas di Surabaya. ”Selain untuk melakukan koordinasi, HT ini juga berfungsi untuk mendapatkan informasi tentang bencana dan perkembangannya,” jelas Agus. (ito)
Reporter : Bambang Yupito
Foto : Dalu Karunia Putra
| Attachment | Size |
|---|---|
| kebakaran.gif | 29.34 KB |
