Kultum yang dilaksanakan oleh Dinkes Kota Surabaya merupakan agenda rutin setiap bulan sekali, namun kali ini kultum yang diikuti oleh seluruh karyawan Dinkes khusus diadakan untuk menyambut hari raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 27 November nanti. Untuk itu, kultum kali ini mengambil tema “Mensyukuri Nikmat Dengan Berqurban” yang disampaikan oleh Drs KH. Syafi’udin.
Kultum yang disampaikan oleh Drs. KH. Syafi’udin berlangsung cukup hikmat, mengingatkan kembali akan kisah kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. “Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengorbankan anaknya yang paling ia sayangi, ia rela mengorbankannya demi kecintaanya kepada Allah,” kata Kyai Syafi’udin menceritakan kisah nabi Ibrahim
Dalam kesempatan ia menegaskan bahwa Qurban itu ada 2 sifat, yakni umum dan khusus. Secara umum qurban itu sesuatu yang dilakukan atas ridho Allah SWT. Misalkan dengan berbuat amal kebaikan kepada orang lain, ”itu juga merupakan qurban,” tuturnya. “Mementingkan kepentingan orang lain daripada dirinya itu juga qurban,” imbuh laki-laki asli Gunung Anyar, Surabaya ini.
Sedangkan qurban secara khusus ada qurban yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim telah diuji kesabarannya dengan pengorbanannya untuk menunjukkan kecintaan pada Allah SWT. Saat usia yang tidak muda lagi, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk khitan. Kemudian ia juga diperintahkan untuk mengorbankan seluruh ternaknya yang berjumlah 1400 yang terdiri dari 1000 kambing, 300 sapi dan 100 unta. “Nabi berkata, hewan ternakku itu tidak ada apa-apanya,” ucap ustad Saifi’udin saat memberikan ceramahnya di depan seluruh karyawan Dinkes Kota Surabaya.
Lanjut, ia ceritakan bahwa ujian Nabi Ibrahim tidak berhenti sampai disitu saja. Menjelang usia Nabi Ibrahim yang sudah tua, ia (Nabi Ibrahim) belum juga dikaruniai seorang anak. Ia (Nabi Ibrahim) berkata kepada Allah SWT, ”Aku merindukan seorang putra laki-laki yang alim,” doa nabi Ibrahim kala itu.
“Doa kekasih Allah itu belum dikabulkan. Ia terus berdakwah menyebarkan agama Allah. Sampailah ia pada negeri Mesir. Bersama istrinya Siti Sarah nabi pindah ke Mesir. Saat di Mesir inilah mereka dihadiahkan seorang budak oleh raja Mesir bernama Siti Hajar”
Lanjut, “Sudah lama kekasih Allah ini merindukan seorang putra tetapi tak kunjung doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Karena Nabi sudah menginjak usia tua, Istrinya memberikan izin untuk menikah dengan Siti Hajar, budak yang telah dihadiahkan kepadanya, akhirnya Nabi menikah dengan Siti Hajar agar mempunyai keturunan. Menjadi kekuasaan Allah ketika Siti Hajar Hamil, istri pertamanya juga mengandung juga,”cerita Kyai Syafi’udin. “Anak-anak nabi Ibrahim pun lahir bersamaan, Siti Hajar melahirkan Putra yang diberikan nama Ismail dan Siti Sarah melahirkan putra yang dinamakan Ishak,” imbuhnya.
Sudah biasa anak-anak sering bertengkar, karena Ismail anak yang lucu yang paling disayang oleh Nabi. Agar tak bertengkar Ismail dan ibunya Hajar dipindahkan ke Mekah. Mereka ditempatkan di tanah yang gersang tak ada makanan atau pun air. Atas kekuasan Allah yang akhirnya menciptakan sumur zam-zam yang kini bisa dinikmati oleh semua orang didunia dan tidak pernah kering dan habis.
Namun sebagai pengorbanan yang berat bagi Nabi Ibrahim, ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk mengorbankan anaknya Ismail. Janji itu diminta oleh Allah pada tanggal 8 Dulhijjah, maka dilaksanakan perintah itu pada 10 Dulhijjah, “Ketika nabi akan menyembelih anaknya, malaikat Jibril diperintahkan oleh Allah untuk menggantikan Ismail dengan seekor domba,” lanjut ceritanya.
Hari 10 Dulhijjah itulah yang kini diperingati oleh umat muslim sebagai Hari Raya Idul Adha atau hari qurban. “Qurban untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita selama ini,”ungkap laki-laki yang mengunakan pakaian safari Hitam itu.
Sebelum ia mengakhiri Kultum yang dibawakan ini, Ustadz Syafi’udin berpesan kepada para hadirin untuk selalu membaca takbir murshal pada hari Raya Idul Adha nanti. “Takbir sebaiknya juga dibaca 4 hari setelah Idul Adha dan itu sama halnya melaksanakan 1000 kali ibadah Haji,” tuturnya.
Namun Ustadz Syafi’udin juga menjelaskan bahwa ada qurban wajib dan Sunnah. Qurban wajib yakni qurban yang disertai nadzar sedangkan qurban yang hukumnya sunnah, jika qurban itu sebagai rasa syukur kepada Allah. “Semoga dengan qurban, kita semua bisa mendekatkan diri kepada Allah,” paparnya. (Ima)
Reporter : Imroatul Afifah
Surabaya, eHealth. Umat Islam diseluruh penjuru dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha yang dirayakan dengan Qurban. Menjelang Perayaan itu, Dinas Kesehatan Kota mengadakan Kultum (kuliah Tujuh Menit), tujuannya untuk menyegarkan kembali ingatan kita pada kebesaran Allah terhadap sejarah telah diperingatinya hari raya Qurban. Acara berlangsung kemarin Selasa (24/11), di gedung serba guna Dinkes Kota Surabaya. 
