Gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan kesehatan. Tentu tidak ada kata terlambat untuk menjadi sehat selama ada niat. Berikut ulasan singkat untuk “tabungan” Anda yang telah berusia lanjut mengenai gizi. Dan bagi Anda yang masih muda? Dapat baca ulasan ini untuk orang tua tercinta di sekitar Anda atau bagi investasi kesehatan Anda di masa tua.
Masalah gizi yang sering diderita usia lanjut (Usila) adalah kurang gizi. Kondisi ini kurang disadari oleh Usila karena hampir tidak terlihat gejala yang muncul. Kurang gizi dapat terjadi secara mendadak akibat adanya gangguan kesehatan yang dialami secara mendadak atau yang telah berlangsung lama, seperti contohnya gangguan menelan. Penggunaan obat yang berlebihan juga sering menimbulkan interaksi yang kurang baik dengan asupan makanan yang menyebabkan kurang gizi.
PROSES MENUA
Di dalam struktur anatomis, proses menjadi tua terlihat sebagai kemunduran di dalam sel. Proses ini berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia pada jaringan tubuh dan akhirnya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan.
Proses menua sangat individual dan berbeda perkembangannya bagi setiap individu karena dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang keduanya saling mempengaruhi. Asupan gizi atau konsumsi makanan sangat mempengaruhi proses menjadi tua (age related disease), mengingat seluruh aktifitas sel atau metabolisme dalam tubuh memerlukan zat gizi yang cukup
Bagan 1
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES MENUA

Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Selain perubahan biologis yang jelas dapat terlihat dari luar, adapun perubahan psikologis yang tidak dapat terlihat secara langsung. Contoh kemunduran psikologis pada usia lanjut yaitu ketidakmampuan untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya, antara lain: sindroma lepas jabatan, sedih yang berkepanjangan, dan lainnya.
Namun, terdapat beberapa kondisi pada usia lanjut yang dapat mempengaruhi pola makan yang pada akhirnya berdampak pada status gizi dan kesehatan usia lanjut. Seperti terlihat keterangan singkatnya pada tabel di bawah ini:
TABEL 1
STATUS GIZI PADA USIA LANJUT
|
Kondisi Usia Lanjut |
Perubahan Pola Makan |
Status Gizi |
|
|
1 |
Metabolisme basal menurun |
Kebutuhan kalori menurun |
Cenderung kegemukan atau obesitas |
|
2 |
Aktifitas/kegiatan fisik berkurang |
Kalori yang dipakai sedikit |
Cenderung kegemukan/obesitas |
|
3 |
Ekonomi meningkat |
Konsumsi berlebih |
Cenderung kegemukan/obesitas |
|
4 |
Fungsi mengecap dan penciuman menurun/hilang |
Makan tidak enak, nafsu makan menurun |
Kurang gizi (Kurang Energi Protein yang kronis/KEK) |
|
5 |
Penyakit periodontal atau gigi tanggal |
Kesulitan makan yang berserat (sayur, daging), cenderung makan makanan yang lunak (tinggi kalori) |
Dapat terjadi KEK atau kegemukan/obesitas |
|
6 |
Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan |
Mengganggu penyerapan vitamin dan mineral |
Defisiensi zat-zat gizi mikro |
|
7 |
Mobilitas usus menurun |
Susah buang air |
Wasir (pendarahan à anemia) |
|
8 |
Sering menggunakan obat-obatan / alkohol |
Menurunkan nafsu makan |
- kurang gizi |
|
9 |
Gangguan kemampuan motorik |
Kesulitan untuk menyiapkan makanan sendiri |
Kurang gizi |
|
10 |
Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis) |
Nafsu makan menurun |
Kurang gizi |
|
11 |
Pendapatan menurun (pensiunan) |
Konsumsi makan menurun |
Kurang gizi |
|
12 |
Demensia (pikun) |
Sering makan atau lupa makan |
Kegemukan/obesitas atau kurang gizi |
MASALAH GIZI
Seperti yang telah diungkapkan pada awal artikel, bahwa masalah gizi usia lanjut merupakan rangkaian proses masalah gizi sejak usia muda yang manifestasinya muncul setelah tua. Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para pakar, masalah gizi pada usia lanjut sebagian besar merupakan masalah gizi lebih dan kegemukan/obesitas yang memacu timbulnya penyakit Degeneratif seperti jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, gout, rematik, ginjal, sirosis hati, empedu dan kanker. Namun demikian, Kurang Energi Protein yang Kronis (KEK), anemia dan kekurangan zat gizi mikro lain juga tak luput dari masalah yang dihadapi oleh usia lanjut ini.
- Kegemukan dan Obesitas
Keadaan ini disebabkan karena pola konsumsi berlebih yang banyak mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Kegemukan ini biasanya terjadi sejak usia muda, bahkan sejak anak-anak. Seseorang yang sejak kecil sudah gemuk mempunyai banyak sel lemak yang bilamana konsumsi meningkat cenderung sel lemak itu diisi kembali sehingga mudah menjadi gemuk.
Proses metabolisme yang menurun pada usia lanjut, bila tidak diimbangi dengan peningkatan aktifitas fisik atau penurunan jumlah makanan, sehingga kalori yang berlebih akan diubah menjadi lemak yang mengakibatkan kegemukan. Selain kegemukan secara keseluruhan, kegemukan pada bagian perut lebih berbahaya karena kelebihan lemak di perut dihubungkan dengan meningkatnya risiko menderita penyakit jantung koroner daripada lemak bagian lain.
Beberapa penyakit yang dihubungkan dengan kegemukan atau obesitas :
- Penyakit Jantung Koroner
Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko jantung koroner
- Hipertensi
Berat badan yang berlebihan akan meningkatkan beban jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tekanan darah cenderung lebih tinggi. Disamping itu pembuluh darah pada usia lanjut lebih tebal dan kaku (arteriosklerosis) sehingga tekanan darah akan meningkat.
- Diabetes Mellitus
adalah suatu keadaan/kelainan dimana terdapat gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan karena kekurangan insulin atau tidak berfungsinya insulin, akibatnya gula darah tertimbun dalam darah (hiperglikemia) dengan berbagai akibatnya
- Sirosis Hepatitis
Lemak yang berlebih akan ditimbun dalam hati yang dapat menyebabkan terjadinya perlemakan hati, memicu terjadinya penyakit sirosis hepatitis. Disamping itu sirosis hepatitis juga disebabkan karena radang hati (hepatitis) akibat kebiasaan minum alkohol berlebih. Sirosis dapat berkembang menjadi kanker hati.
- Kurang Energi Kronis (KEK)
Selain kurangnya karbohidrat, lemak dan protein sebagai zat gizi makro, penderita KEK biasanya juga disertai kekurangan zat gizi mikro yang lain. Seseorang dikatakan menderita KEK bila Indeks Massa Tubuh (IMT) <17, selain itu dari pemeriksaan klinis dapat terlihat bahwa orang tersebut sangat kurus dan tulang-tulangnya menonjol. Penyebab KEK pada usia lanjut antara lain:
- Makan tidak enak karena berkurangnya fungsi alat perasa dan penciuman
- Banyak gigi yang tanggal/ompong sehingga untuk makan terasa sakit
- Nafsu makan berkurang karena kurang aktifitas, kesepian, depresi, penyakit kronis, efek samping obat, alkohol dan rokok.
- Osteoporosis (Keropos Tulang)
Massa tulang telah mencapai maksimum pada usia sekitar 35 tahun untuk wanita dan 45 tahun untuk pria. Keropos tulang pada wanita terjadi setelah 2 tahun mengalami menopause. Hal tersebut dikarenakan tulang wanita lebih kecil daripada tulang pria dan dikarenakan pengaruh penurunan hormon estrogen pada wanita yang telah mengalami menopause.
Konsumsi kalsium kurang dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan osteoporosis. Susu merupakan sumber kalsium terbaik. Bila kehilangan mineral kalsium dapat terjadi patah ruas tulang belakang sehingga dapat mengakibatkan antara lain orang tua menjadi bongkok, dan wanita lebih cenderung bongkok dibanding pria.
- Gout
Pada penderita gout perlu pembatasan konsumsi protein agar kadar asam urat dalam darah menurun. Asam urat sendiri disebabkan kelainan metabolisme protein yang menyebabkan asam urat dalam darah meningkat. Kristal asam urat akan menumpuk di persendian yang menyebabkan rasa nyeri dan bengkak di sendi. Selain itu asam urat yang berlebih dapat menjadi pencetus terjadinya batu ginjal.
- Kurang Zat Gizi Mikro Lain
Seperti yang telah tertera pada point KEK, bahwa kekurangan zat gizi mikro merupakan efek lain dari seseorang yang menderita KEK, namun kekurangan zat gizi mikro dapat pula terjadi pada orang dengan status gizi baik. Hal ini disebabkan karena pola makan dengan menu yang tidak beragam
- Kurang Serat
Pada usia lanjut, karena kesulitan mengunyah, cenderung mengkonsumsi makanan yang sudah diproses, yang kandungan seratnya sedikit. Kurang serat dapat meningkatkan resiko menderita kanker usus besar. Selain itu pada usia lanjut juga sering terjadi susah buang air besar dan wasir.
KECUKUPAN GIZI
Kecukupan gizi usia lanjut berbeda dengan kecukupan gizi usia muda karena pada usia lanjut terjadi perubahan fisiologis dan psikososial sebagai akibat dari proses menua. Kebutuhan gizi setiap individu dipengaruhi oleh faktor-faktor di bawah ini:
- Umur
- Jenis Kelamin
- Aktivitas/Kegiatan Fisik dan Mental
- Postur Tubuh
- Pekerjaan
- Iklim/Suhu Udara
- Kondisi Fisik Tertentu
- Lingkungan
Menjadi tua memang sesuatu yang tidak dapat dihindari, dan proses penuaan itu sendiri terjadi semenjak usia muda dan sangat individual, berbeda satu sama lain. Namun, proses tersebut dapat diperlambat apabila sejak usia muda telah menjaga status gizi dan kesehatannya. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan makanan yang mengandung nilai gizi cukup dan seimbang serta mengikuti pola hidup sehat.
Pada prinsipnya zat gizi yang dibutuhkan oleh usia lanjut sama seperti usia muda yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air dan serat dalam jumlah seimbang yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing usia lanjut. Konsumsi makanan yang cukup dan seimbang akan bermanfaat bagi usia lanjut untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan penyakit degeneratif dan kemungkinan kurang gizi.
Kecukupan gizi usia lanjut sebaiknya dihitung secara individu, karena pada umumnya usia lanjut cenderung mengalami penyakit degeneratif, dan beberapa kemunduran metabolisme lainnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sehingga untuk usia lanjut yang menderita penyakit, kebutuhan zat gizi harus dihitung dengan cermat oleh dokter gizi atau nutrisionis, karena kemungkinan harus mendapatkan formula khusus dan mungkin juga diperlukan tindakan khusus untuk memasukkan makanan/cairan formula ke dalam tubuh
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang berbeda-beda setiap indicidu pada umumnya dihitung berdasarkan kebutuhan kalori dan energi, sebagai berikut:
- Energi
Menurut Widya Karya Pangan Gizi tahun 1998, secara umum kecukupan gizi yang dianjurkan untuk usia lanjut (>60 tahun) pada laki-laki adalah 2200 kalori dan pada wanita adalah 1850 kalori. Kebutuhan energi pada usia lanjut menurun sehubungan dengan penurunan metabolisme basal (sel-sel banyak yang inaktif dan kegiatan fisik cenderung menurun). Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 5% pada usia 40-49 tahun dan 10% pada usia 50-69 tahun.
- Protein
Kecukupan protein sehari yang dianjurkan pada usia lanjut adalah sekitar 0,8 gram/kg berat badan atau 15-25% dari kebutuhan energi. Konsumsi protein berlebih dapat membebani faal ginjal sehingga tidak dianjurkan untuk usia lanjut.
Dianjurkan memenuhi kebutuhan protein terutama dari protein nabati dan dari protein hewani dengan perbandingan 2:1. Jumlah protein yang dibutuhkan untuk laki-laki usia lanjut adalah 55 gram/hari dan wanita 48 gram/hari yang terdiri 15% protein ikan, 10% protein hewani lain dan 75% protein nabati.
- Lemak
Lemak dibutuhkan untuk penyerapan vitamin A, D, E, dan K serta menambah lezatnya hidangan. Lemak berlebih disimpan dalam tubuh sebagai cadangan tenaga dan bila berlebihan akan ditimbun sebagai lemak tubuh (sel lemak). Kebutuhan lemak untuk usia lanjut lebih sedikit karena akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, pada usia lanjut dianjurkan konsumsi lemak jangan lebih dari 15% kebutuhan energi dan dianjurkan untuk menggunakan minyak nabati karena mengandung asam lemak tak jenuh (kecuali santan).
Lemak jenuh dan kolesterol hanya terdapat pada makanan hewani terutama kambing, sapi, kerbau, dan ayam. Sedangkan ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh sehingga usia lanjut dianjurkan untuk mengkonsumsi ikan karena dapat menurunkan risiko menderita penyakit jantung dibandingkan mengkonsumsi sumber protein yang lain.
- Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama di dalam menu makanan Indonesia. Penggunaan karbohidrat relatif menurun pada usia lanjut karena kebutuhan kalori juga menurun. Untuk usia lanjut dianjurkan mengkonsumsi karbohidrat komplek karena juga mengandung vitamin, mineral, dan serat daripada mengkonsumsi karbohidrat murni seperti gula. Dianjurkan pada usia lanjut mengkonsumsi 60-65% karbohidrat sebagai kebutuhan energi.
- Vitamin
Untuk usia lanjut dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi makanan kaya vitamin A, D dan E untuk mencegah penyakit degeneratif (sebagai antioksidan). Selain itu, konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin B12, asam folat, vitamin B1 dan vitamin C juga dianjurkan untuk mencegah risiko penyakit jantung.
- Mineral
Pada usia lanjut dianjurkan mengkonsumsi makanan kaya Fe, Zn, Selenium dan Kalsium untuk mencegah anemia dan pengeroposan tulang terutama pada wanita, selain juga perlu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Disamping itu, zat gizi mikro lain seperti pospor, kalium, natrium, dan magnesium juga dibutuhkan untuk proses metabolisme di dalam tubuh.
- Air dan Serat
Air sangat penting untuk proses metabolisme dan mengeluarkan sisa pembakaran tubuh. Selain itu serat juga dianjurkan untuk usia lanjut agar buang air besar menjadi lancar. Beberapa tipe makanan berserat yang dapat mencegah penyerapan kolesterol dalam usus dapat merupakan kontribusi untuk menurunkan kolesterol total dalam tubuh.
GIZI SEIMBANG
Gizi artinya makanan dan manfaatnya untuk kesehatan. Dapat juga diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Hidangan Gizi Seimbang adalah makanan yang mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Zat tenaga atau kalori diperlukan untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sebagian besar diperoleh dari bahan makanan sumber karbohidrat dan lemak serta sedikit protein.
Zat pembangun atau protein penting untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel rusak yang didapatkan dari bahan makanan hewani atau tumbuh-tumbuhan (nabati). Sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung berbagai vitamin mineral yang berperan untuk proses metabolisme asam dan bekerjanya fungsi organ tubuh. Selain itu, air diperlukan untuk proses metabolisme. Sedangkan serat dibutuhkan untuk membersihkan isi perut dan memperlancar proses buang air besar. Serat juga mempengaruhi penyerapan zat gizi dalam usus.
Anda tentu familiar dengan istilah 4 sehat 5 sempurna, untuk mendapatkan kecukupan gizi yang cukup dan seimbang baik untuk usia lanjut, dianjurkan untuk menyempurnakan pengetahuan dan perilaku dengan pola 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang.
Setelah mengetahui berbagai kemungkinan kesehatan di masa tua dan beberapa upaya pencegahan, lalu sekarang semua keputusan ada di tangan Anda. Apakah Anda tetap ingin bermain bersama dengan cucu kelak di hari tua dengan menginvestasi kesehatan sedini mungkin, atau ingin terbaring hanya melihat cucu Anda menggoda Anda untuk berlarian. Semua ada di tangan Anda.(Fie)
Reporter: Dian Sofianty P
Referensi:
Departemen Kesehatan RI. 2006. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta
http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/panduan-13-pesan-dasar-gizi-seimbang
Surabaya, eHealth. Pada umumnya, orang berfikir menjadi tua itu berarti ringkih, penyakitan dan lemah. Padahal yang kita rasakan ketika menjelang usia lanjut itu adalah hasil dari apa yang telah kita “tabung” selama masa muda kita. Salah satu tabungan yang sangat berarti tersebut adalah kesehatan, karena bukan hanya harta benda atau uang yang dapat datang dan pergi. Bagaimana jadinya apabila kesehatan pergi dari kehidupan kita di masa tua. 