|
Screening ini meliputi pemeriksaan umum, gigi, gizi, buta warna, tes pendengaran, sanitasi, dan lingkungan sekolah. Staff yang dikerahkan minimal 6 orang dan pada kesempatan hari itu dikerahkan sebanyak kurang lebih 11 orang yang meliputi dua dokter, dua staff untuk pemeriksaan gigi, dua perawat, dua staff untuk pemeriksaan mata, dua staff untuk pengecekan tinggi badan dan berat badan, dan terakhir seorang Petugas Pelaksana Gizi yang tidak lain adalah Kunarsono sendiri.
Saat itu (3/04) merupakan Screening terakhir untuk rangkaian pemeriksaan siswa-siswi SD yang ada di wilayah Puskesmas Mulyorejo yakni di SD Katolik Kristus Raja. “Walaupun beberapa SD telah memiliki dokter sendiri tetapi mereka tetap menerima Screening, dan itu berarti ada kepercayaan terhadap Puskesmas kami”, ujar Kunarsono ketika ditemui Tim eHealth. Screening Paripurna ini merupakan upaya untuk mencegah penyakit sebelum berlanjut ke level yang lebih tinggi atau berupaya agar nantinya bisa cepat diatasi. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Sekolah SD Katolik Kristus Raja Dra. Aufrida Mintarsih. Beliau mengungkapkan bahwa kegiatan Screening ini merupakan hal yang positif untuk dilakukan dalam mengetahui penyakit yang seharusnya dapat diatasi lebih dini.
Untuk menanamkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan, SD Kristus Raja telah memiliki jadwal pemeriksaan kesehatan setiap dua hari sekali. Selain itu diadakan pula pemilihan kader kecil atau dokter kecil yang dipilih oleh guru kelas dan dilantik langsung oleh dokter umum. Terdapat 12 dokter kecil di SD Katolik Kristus Raja yang dipilih berdasarkan tingkat pengetahuan tentang kesehatan dan ketrampilan siswa. |
|
![]() |
Salah seorang dokter kecil, Laurensia Frilin Larina Hartono atau yang biasa dipanggil Frilin, mengungkapkan bahwa syarat untuk menjadi dokter kecil adalah adanya rasa tanggung jawab pada diri siswa. “Menjadi kader atau dokter kecil adalah suatu perbuatan bagus menurut saya”, ujar Frilin yang pada saat itu mengenakan jas dokter dan pin bertuliskan Kader Bhakti Wiyata Husada. |
|
Siswi kelas 5 SD ini pun mengakui bahwa menjadi dokter kecil adalah keinginannya sendiri tanpa paksaan siapa pun. Sambil tersipu malu ia mengatakan bahwa cita-citanya adalah menjadi dokter. Dokter kecil ini tentu telah diberi pembekalan mengenai penimbangan berat badan, pengukuran tinggi, pengetesan mata, kesehatan gigi, dan mereka pun dibekali sebuah buku panduan untuk melakukan pemeriksaan fisik tersebut.
Banyak hal yang ditemukan ketika Screening dilakukan. Sejauh ini penyakit yang banyak ditemukan di Sekolah-sekolah Dasar adalah Pembesaran Kelenjar Gondok dan Gangguan Penglihatan. Seperti contohnya saat dilakukan pemeriksaan terhadap siswa-siswi SD Katolik Kristus Raja, ternyata salah satu siswanya menderita gondok. Menurut salah satu staff Puskesmas Mulyorejo hal tersebut dikarenakan penyimpanan garam beryodium yang tidak ditutup sehingga kandungan yodiumnya hilang.
Seluruh hasil dari Screening sekolah-sekolah yang memakan waktu kurang lebih 1 bulan ini akan dibawa dan dipaparkan pada pertemuan lintas sektor yang menghadirkan para Kepala Sekolah area Mulyorejo. Rencananya mereka akan diberi himbauan lebih lanjut menyangkut kesehatan siswa-siswinya.
Meski proses Screening yang dilakukan setiap 6 bulan sekali ini memakan banyak waktu dan tenaga, hal tersebut tidak mematahkan semangat para staff Puskesmas Mulyorejo. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Puskesmas dr. Riana Restuti ketika ditemui di ruangannya, hal tersebut sudah menjadi konsekuensi yang harus dijalani. “Dari pada setengah-setengah, lebih baik melakukan sesuatu secara all out supaya nantinya dapat berguna demi generasi penerus bangsa”, ujarnya.(fie) |
|
Screening Paripurna Untuk Siswa SD
()
Puskesmas Mulyorejo
|
Periksa 47 Sekolah Setiap 6 Bulan
3 April 2008 |
|
![]() |
|


